Saya adalah mahasiswa disalah satu Institusi Swasta di Lombok, tepatnya di daerah Mataram. Sebagai mahasiswa semester awal banyak hal yang sangat mengganjal dan mengganggu fikiran saya. Banyak hal yang tidak sesuai harapan saya, tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Seperti halnya sarana dan prasarana kampus yang tidak bagus, ditambah lagi pelayanan dari dosen yang tidak maksimal. SPP yang sangat mahal tidak sesuai dengan sarana dan prasarana yang kami dapatkan, ditambah lagi akhir-akhir ini banyak mahasiswa yang mengeluhkan perolehan nilai yang didapatkan pasca UAS. Nilai yang didapatkan mahasiswa banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Mengapa demikian?.
Membeli buku, menghadiri kelas, mengumpulkan tugas, presentasi serta ujian pun telah di tempuh oleh mahasiswa namun kemudia hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Siapakah pihak yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut? Tentu saja semua orang akan setuju jika disebutkan “DOSEN” lah pihak yang bertanggung jawab. Jika dosen memberikan kesan buruk terhadap mahasiswa dan semakin mahasiswa tidak puas maka itu akan memberikan citra yang buruk untuk kampus bagi masyarakat karena mahasiswa adalah salah satu sumber promosi paling efektif untuk kampus. Kalau tidak ada mahasiswa maka kampus tentu saja akan tutup, terlebih lagi kampus Swasta.
Disini seharusnya dosen berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik untuk mahasiswa. Betul-betul melaksanakan tugas untuk melayani mahasiswa. Hasilnya nanti mahasiswa akan puas, tanpa mengurangi kualitas kontrol akademik. Oleh karenanya tetap mahasiswa akan mempromosikan bahwa kampus mereka adalah yang terbaik dan akan tetap merekomendasikannya kepada teman-teman yang mau masuk kuliah. Disini mahasiswa tidak menuntut untuk di berikan hal-hal yang muluk, mahasiswa hanya menuntut pelayanan yang baik oleh pihak dosen, kejelasan tentang sistem penilaian, dsb.
Jika kampus memberikan pelayanan yang baik dan bagus terhadap mahasiswa maka dampaknya juga akan kembali ke kampus sendiri, yaitu kampus akan semakin maju dan berkembang. Nah kemudian, kalau kampus sudah Swasta, pelayanan tidak maksimal, dosen ogah-ogahan terhadap mahasiswa. Tinggal di tebak saja bagaimana kelanjutannya. Mahasiswa ke kampus untuk menuntut ilmu dan jelas juga harus mendapatkan nilai yang sesuai dengan kemampuannya, bukan malah dosen hanya memberikan nilai yang bagus dan lebih kepada mahasiswa yang dikenal dan dekat dengan dosen tersebut. Sebagai mahasiswa kami tidak membenarkan hal tersebut karena itu hanya akan memberikan citra buruk kepada kampus juga mahasiswa, dan yang terlebih lagi akan sangat merugikan mahasiswa.
Dosen sebagai orang yang terdidik juga seharusnya bisa memberikan pelayanan terbaik, karena di kampus mahasiswa tidak mengemis, mahasiswa membayar untuk mendapatkan pelajaran untuk mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu nilai yang diberikan juga harus sesuai dan jangan sampai merugikan mahasiswa. Mahasiswa berhak menuntut kejelasan dari pelayanan dan sistem penilaian yang berlaku, juga berhak mengetahui kemana larinya SPP yang telah dibayarkan kepada pihak kampus. Jika kampus sebagai tempat menuntut ilmu, sebagai tempat orang-orang terdidik saja tidak mampu memberikan kejelasan dan keadilan bagi mahasiswa, lalu siapa lagi?
SPP yang sering dikeluhkan mahal oleh mahasiswa juga sangat tidak sesuai dengan harapan. Ruang kelas yang panas, kamar mandi yang kotor serta beberapa kamar mandi yang tidak memiliki lampu sudah cukup memberikan kesan buruk bagi mahasiswa. Ditambah lagi dengan pelayanan yang tidak maksimal. Kesuksesan kampus bisa dilihat dari mahasiswanya, tapi jika pelayanan terhadap mahasiswa saja tidak maksimal bagaimana kesuksesan itu akan terwujud? Kembali lagi siapa yang akan bertanggung jawab?